Merawat Peradaban: Generasi Muda dan Tantangan Transformasi Digital
Sebuah peradaban tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari pengetahuan, pengalaman, budaya, iman, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Namun, manusia memiliki keterbatasan. Ingatan bisa memudar, orang bisa pergi, dan waktu terus berjalan. Karena itu, apa yang berharga bagi kehidupan kita perlu dicatat dan disimpan dengan baik agar tidak hilang begitu saja.
Selama ini, buku, dokumen, foto, rekaman suara, dan berbagai arsip menjadi tempat kita menyimpan ingatan. Sayangnya, benda-benda tersebut dapat rusak karena usia, rayap, banjir, kebakaran, atau karena tidak lagi terawat. Di sinilah teknologi digital dapat membantu.
Digitalisasi bukan sesuatu yang harus selalu rumit atau mahal. Sederhananya, kita sedang memindahkan dan menyimpan kembali pengetahuan penting dalam bentuk yang lebih mudah dirawat, dicari, dan dibagikan.
Pemuda sebagai Pengelola Teknologi yang Bijak
Bagi pemuda-pemudi Kristen Arfak, khususnya di GPKAI Jemaat Simon Hungku, teknologi dapat menjadi sarana untuk menjaga warisan yang kita miliki. Sejarah gereja, foto-foto pelayanan, catatan keluarga, materi pengajaran, maupun dokumen penting lainnya dapat mulai disimpan secara digital.
Namun, dunia digital juga memiliki tantangan. Media sosial dapat membawa informasi yang keliru, konten yang tidak membangun, kecanduan, bahkan risiko penyalahgunaan data. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan hikmat. Literasi digital bukan hanya soal mampu menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan memahami, memilah, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.³
Firman Tuhan mengingatkan, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” (Amsal 1:7).¹ Artinya, pengetahuan dan teknologi perlu digunakan dengan tanggung jawab. Pemuda bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengelola yang mampu memilih mana yang baik, benar, dan bermanfaat bagi sesama.
Gotong Royong Membangun Masa Depan
Langkah ini tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Gereja dan masyarakat dapat belajar bersama. Pemuda yang memiliki kemampuan di bidang teknologi dapat membantu mendigitalisasi arsip gereja dan kampung, mengatur penyimpanan data, serta mengajarkan cara menjaga keamanan dokumen.
Teknologi digital pada akhirnya bukan sekadar alat untuk mengikuti perkembangan zaman. Transformasi digital juga dapat membantu organisasi mengelola pengetahuan dan mengubah cara informasi disimpan, digunakan, serta dibagikan.⁴
Jika dilakukan bersama, kita dapat membangun sebuah pusat informasi digital sederhana yang menjadi tempat menyimpan sejarah, pengetahuan, dan berbagai dokumen penting komunitas.
Dengan iman, hikmat, dan semangat gotong royong, pemuda GPKAI Jemaat Simon Hungku dapat mengambil bagian dalam memastikan bahwa cerita, pengetahuan, dan nilai-nilai yang kita miliki hari ini tetap hidup dan dapat dikenang oleh generasi yang akan datang. Sebab, merawat masa lalu bukan berarti hidup di masa lalu. Kita sedang menyiapkan masa depan.(*)
Catatan Kaki / Referensi
-
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru. Amsal 1:7. Jakarta: LAI, 1974
-
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Terjemahan Baru. Ulangan 6:6–7. Jakarta: LAI, 1974.
-
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Status Literasi Digital Indonesia 2023. Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2023.
-
George Westerman, Didier Bonnet, dan Andrew McAfee. Leading Digital: Turning Technology into Business Transformation. Boston: Harvard Business Review Press, 2014.
Tentang Penulis
Elyan M. Kowi
*) Elyan M. Kowi, lahir di Irai-Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak. Anggota Jemaat GPKAI Simon Hungku. Suka baca, menulis, dan sesekali mancing. Founder PapuaPay dan AHT-Developer. Dapat dihubungi melalui surel: elykowi@gmail.com
Bagikan Artikel Ini